
Menjelang Imlek, dari Tempat yang Jarang Tersorot, Kepedulian Itu Datang: LLCS Vihara Vajra Bumi Kertayuga Berbagi di Kumpai
KUMPAI, KALIMANTAN BARAT – Menjelang Imlek, banyak orang sibuk mengejar suasana meriah. Toko-toko dipenuhi warna merah, suara tawa terdengar di meja makan keluarga, dan kembang api menjadi penanda datangnya tahun yang baru. Namun di Kumpai, cerita Imlek terasa berbeda. Di tempat ini, perayaan tidak diukur dari ramainya pesta, melainkan dari hangatnya kepedulian yang hadir.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan Imlek, masih ada warga yang harus berpikir keras hanya untuk memastikan dapur tetap menyala. Baju baru bukan prioritas, apalagi kemewahan perayaan. Yang terpenting adalah bagaimana hari esok tetap bisa dijalani. Melihat kenyataan itulah, Lotus Light Charity Society cabang Vihara Vajra Bumi Kertayuga memilih untuk datang, bukan membawa kemeriahan, tetapi membawa perhatian.
Tim relawan menyusuri wilayah Kumpai dengan membawa paket sembako dan angpao Imlek. Sederhana, namun penuh makna. Beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya menjadi simbol kepedulian yang nyata. Sementara angpao merah yang dibagikan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pesan sunyi yang ingin disampaikan: bahwa harapan selalu ada, dan bahwa tidak seorang pun benar-benar sendiri.
Yang membuat hari itu terasa istimewa bukan hanya bantuan yang diberikan, melainkan suasana yang tercipta. Percakapan hangat di depan rumah warga, senyum yang perlahan muncul, hingga rasa lega yang terlihat di wajah para penerima bantuan. Di momen-momen kecil itulah makna Imlek terasa lebih hidup—bukan tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang apa yang bisa dibagikan.
Di balik kegiatan ini, ada tangan-tangan kebaikan yang tidak selalu terlihat. Para donatur yang memilih untuk berbagi tanpa ingin disorot menjadi kekuatan utama gerakan ini. Setiap paket yang sampai kepada warga adalah bukti bahwa kepedulian masih tumbuh dan terus bergerak, bahkan tanpa perlu panggung.
Kumpai mungkin tidak berubah dalam satu hari. Namun siang itu, suasananya terasa lebih cerah. Beban warga sedikit berkurang, dan hati para relawan justru terasa lebih penuh. Karena pada akhirnya, kebahagiaan terbesar dalam perayaan bukanlah ketika kita menerima, melainkan ketika kita mampu memberi.
Semoga cahaya kepedulian ini terus menyala, melampaui perayaan, melampaui waktu, dan terus hadir di setiap langkah ke depan.
Terima kasih kepada para donatur dan relawan yang telah menjadi bagian dari kisah kebaikan ini.
OM GURU LIAN SHENG SIDDHI HUM
嗡。咕噜。莲生。悉地。吽




























